Untuk memahami pola hidup sehat,
orang tak perlu menjadi dokter.
Wawasan sehat diperoleh dari membaca seperti sekarang,
mendengar,
dan menyaksikan uraian kesehatan ini.
Orang suka bilang,
"Saya tidak takut sakit
karena saya punya uang untuk menyembuhkannya."
Pikiran itu tidak sepenuhnya benar.
Strategi yang bijak seyogianya bukanlah itu.
Lalu bagaimana?
Tidak semua kesembuhan bisa dibeli dengan uang,
selain tidak semua penyakit bisa sembuh
tanpa menyisakan kecacatan atau kelemahan.
Sikap kita terhadap ancaman penyakit,
arifnya berikhtiar agar jangan sampai jatuh sakit
dan itu masih mungkin kita lakukan.
Ada cerita seorang miliarder rela menyerahkan separuh hartanya
untuk mengembalikan kondisi jantungnya yang sudah telanjur
sakit.
Sayang, seluruh hartanya pun
tak sanggup mereparasi penyakit jantungnya karena sudah rusak.
Uang sebanyak apa pun tak mungkin memulihkannya.
Dari situ kita belajar bahwa untuk sehat perlu investasi,
bukan sekadar ongkos.
 |
 |
Penyakit sendiri ada dua kelompok.
Yang bisa dicegah dan sebetulnya tak perlu terjadi,
dan kelompok penyakit yang harus diterima saja
(kelainan gen, cacat bawaan), tetapi bisa dijinakkan.
Tubuh seseorang bisa menghadapi keduanya sekaligus.
Namun, seberapa pun besar ancaman penyakit,
asal tahu caranya, tak perlu penyakit merongrong
secara ekonomi, jasmani, maupun rohani.
Cita-cita ideal itu, bukan mustahil bisa kita raih.
Semua penyakit yang bisa dicegah
sesungguhnya tak perlu terjadi kalau kita mau berikhtiar.
Namun, lebih separuh penyakit yang muncul sehari-hari
adalah jenis yang sesungguhnya tak perlu terjadi.
Hanya lantaran kita kurang memahami kiatnya,
termasuk memahami nutrisi,
yang tak perlu terjadi itu ternyata merongrong kita.
Kesehatan kita ditentukan oleh apa yang kita makan.
Bukan saja frekuensi,
kecukupan tubuh akan semua zat gizi perlu terpenuhi porsinya.
Semakin bervariasi menu harian,
semakin memadai kecukupan zat gizi.
Tubuh membutuhkan sekitar 40-an jenis zat gizi.
Sebagian bersifat esensial atau tak bisa disediakan oleh tubuh,
melainkan harus berasal dari makanan.
Kita butuh makan tiga kali sehari.
Namun, bila pola makan harian kita bolak-balik
hanya itu-itu saja lagi (monodiet),
kecukupan tubuh akan semua zat gizi tidak terpenuhi.
Bukan pula porsi masing-masing zat gizi perlu tepat,
kualitas menu juga ikut menentukan
terpenuhi tidaknya kecukupan gizi tubuh kita.
Bila menu harian tergolong ampas (junk food, menu siap saji),
dan konsumsi itu berlangsung terus,
lama-kelamaan tubuh akan kekurangan gizi.
Gejala orang modern kurang gizi terjadi sekarang ini.
Itulah makanya produk "makanan masa depan"
semakin diperlukan.
Kalau saja kita tak keliru memilih.
Selain asap rokok,
menu yang salah bisa menjadi penyebab kanker terbesar.
Menu yang bijak itu proporsional
untuk masing-masing zat gizi yang tubuh butuhkan,
dari bahan pilihan yang alami,
tanpa pengawet, penyedap, pewarna,
pemanis buatan (berbahaya),
dan dikonsumsi tidak secara berlebihan.
 |
Jadi tak cukup sekadar memenuhi nilai gizi saja
bila menunya mengandung zat berbahaya.
Apakah sayur mayur yang kita konsumsi
tidak tercemar pestisida yang disemprotkan,
sehingga orang perlu memilih tanaman organik yang bebas
pestisida.
Apakah di kulit buah yang kita gerogot
tidak tersisa bahan kimia pengawet.
Apa zat warna, penyedap, dan pengawetnya tidak berbahaya,
dan dalam takaran yang diperkenankan?
Selain itu apakah menu kita diolah secara benar?
Apa kita gemar makan acar, ikan asin, beras putih (sosoh),
air yang mengandung nitrat tinggi, atau oncom,
kacang-kacangan yang tercemar jamur pembuat aflatoxin?
Bahaya menu mewah
karena berisi lemak tinggi, tepung, dan gula berlebihan,
boros garam, tetapi rendah karbohidrat serta kurang serat,
selain bahaya bumbu, penyedap, pengawet,
dan pewarna, serta zat kimia berbahaya lainnya.
 |
Menu mewah juga berasal dari menu olahan,
buatan pabrik yang tampak lebih memikat, lezat,
tetapi bertabiat jahat buat kesehatan.
Menu restoran siap saji,
cenderung menjadikan lemak sebagai sumber kalori.
Lebih separuh porsi kalori diberikan oleh lemak
dalam menu harian orang modern.
Padahal, sehatnya jumlah kalori terbesar diperoleh dari
karbohidrat
(nasi, ubi, jagung, ketela).
Selain itu, menu restoran dan menu mewah umumnya
cenderung bukan barang segar. Selain kelewat lama diolah,
bahan bakunya sudah lama disimpan, diawetkan,
dan rusak oleh proses pemanasan selama dimasak.
Sampai usia lanjut tubuh memang terus membutuhkan protein.
Protein hewani maupun protein nabati.
Oleh karena protein hewani yang berasal dari daging merah
(sapi, kambing, babi) banyak lemaknya,
protein lebih sehat diperoleh dari ikan
(ayam, kelinci, kalkun yang tergolong daging putih).
Ikan laut lebih baik dari ikan tawar, karena selain protein,
minyak ikan omega-3 dan omega-6 dari laut dalam (deep sea)
berkualitas sebagai antikolesterol juga.
 |
 |
Menu mewah cenderung memilih daging impor yang lebih mahal,
meski tidak menyehatkan karena lebih banyak kandungan lemaknya.
Dalam sehari, menu mewah rata-rata berisi
seperlima ekor ayam potong atau daging yang setara,
dan itu tidak menyehatkan.
Konsumsi gula orang modern cenderung terus meningkat,
rata-rata 25 kg/kapita/tahun.
Orang Amerika, Australia, dan Kuba bahkan
mencapai 60 kg/kapita/tahun.
Konsumsi gula berlebihan jelas tidak menyehatkan
karena bikin kegemukan (obesitas),
memperberat kencing manis dan penyakit metabolik lainnya
yang tergolong sebagai
"penyakit peradaban",
yakni: jantung, Kanker, kelainan usus diverticulitis,
maupun kanker perut.
Selain kelewat manis, menu mewah juga boros garam dapur.
Rata-rata konsumsi garam dapur menu kita
sepuluh kali lipat kebutuhan tubuh.
Bisa jadi itu sebabnya kasus hipertensi meningkat
di kalangan pemuja menu mewah,
selain berbuntut kencing manis juga.
Kita tahu kegemukan memicu munculnya diabetes,
selain bangkitnya kanker payudara, prostat, atau usus.
Mengapa? Karena menu mewah
(yang rata-rata diolah high refined diet)
akan mengubah flora (kuman penghuni) usus,
dan merusak zat-zat pencernaan,
sehingga berubah menjadi pemicu kanker (karsinogenik).
Hal yang sama terjadi bila kita sering sembelit.
 |
Bila tinja berada lebih lama di dalam usus,
karena kebanyakan makan daging merah
bakteri usus berpeluang
mengubah zat di sana menjadi karsinogenik.
Kekurangan serat (fiber) dalam menu harian orang modern
membuat rata-rata orang
jadi sembelit dan tinggi angka kanker ususnya.
Menu berlemak tinggi juga mengubah komposisi bakteri usus,
sehingga berubah menjadi zat karsinogenik
sang pencetus kanker usus.
Menu berlemak tinggi juga mengubah
keseimbangan hormon seks di dalam tubuh,
sehingga tubuh lebih sensitif terhadap cetusan kanker payudara.
Kita tahu, menu harian modern
cenderung memakai campuran bahan kimia
seperti formalin, pemanis buatan sakarin, aspartam, penyedap
buatan,
selain zar warna (tekstil rhodamine B),
yang berefek buruk terhadap kesehatan.
Efeknya mungkin tidak langsung nyata,
melainkan karsinogenik bersifat kumulatif
setelah sekian puluh tahun dikonsumsi.
 |
Radikal bebas adalah atom-atom
sel yang berubah menjadi tidak normal
karena elektronya kehilangan pasangan.
Atom2 normal seharusnya memiliki elektron2 berpasangan.
Ketidaknormalan ini bisa disebabkan karena radiasi, polusi
kimia,
makanan tidak sehat, kuman dan bakteri, salah pengobatan,
stress,
atau reaksi oksigen pada lemak tak jenuh ganda dalam sel2 tubuh.
Atom yang tidak sempurna ini bersifat tidak stabil dan sangat
reaktif.
Ia akan merusak molekul2 pada sel2, gen2, dan jaringan2 elastin
tubuh
dengan cara "Mencuri pasangan elektron lain dan sekaligus
merusak
elektron yang diganggunya. Kerusakan2 ini antara lain
menyebabkan
penuaaan dini, otot kaku, pengerasan pembuluh arteri, dan bahkan
kanker"
Radikal bebas adalah akibat samping yang tidak dapat di elakan
dalam kehidupan dan dapat bertindak sebagai
zat yang karsinogenik (zat yang menyebabkan kanker).
Pengrusakan oleh radikal bebas meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur.
 |
Solusinya akan ada dengan makan dengan benar atau sehat,
memakan makanan yang mengandung Anti-Oksidan,
diantaranya memakan sayuran dan buah2an yang berwarna,
juga sayur2an cruciferous (kubis, brokoli, kembang kol,
asparagus, dan brussel sprout).
Anti-Oksidan juga terdapat secara alami didalam buah2an,
anggur merah tua, dan sayur2an seperti bawang bombay dan bawang
putih.
Sayur2an dan buah2an ini akan mengikat zat2 karsinogen menjadi
tidak aktif.
Kesehatan kita ditentukan oleh isi meja makan keluarga,
selain oleh kebiasaan jajan atau memilih menu restoran.
Kasus penyakit peradaban dagu berlipat (double chin),
gara-gara lebih doyan menu restoran ketimbang menu rumah.
Sesungguhnya, semakin sederhana dan alami suatu menu,
semakin harus dipilih karena menyehatkan.
 |
 |
Jadi, kalau saja ketaatan menjalani pola hidup sehat
sudah tinggi sejak muda, dan sekarang pun
belum terlambat memulainya,
baik penyakit yang tak perlu terjadi maupun
sekiranya membawa bakat terkena penyakit
metabolik dan degeneratif,
tak perlu sampai menimpa diri kita.
Bakat kencing manis dan darah tinggi
mungkin tak perlu muncul.
Begitu juga jika berbakat asam urat.
Dengan berpola hidup sehat sepanjang hayat,
ada bonus umur lebih panjang dihadiahkan bagi hidup kita.
Bukan saja tidak mati prematur
dan bisa meraih umur yang lebih panjang,
melainkan juga seperti cita-cita orang di negara maju kini,
selain berumur panjang juga tetap sehat
(healthy
aging).
sumber:
Dr. Handrawan Nadesul
Kompas 11 Januari 2008
"Mencegah
lebih baik daripada Mengobati"
dan jika Anda teliti menghitung,
maka:
mencegah lebih muRah daripada mengobati
mencegah lebih muDah daripada mengobati
mencegah lebih seBentar daripada mengobati
mencegah lebih Ringan daripada mengobati
mencegah lebih Menyenangkan daripada mengobati